
Walikota Medan Rico Waas Kritik Kinerja Dinas SDABMBK
Walikota Medan Rico Waas Memberikan Instruksi Tegas Kepada Dinas SDABMBK Untuk Memperkuat Basis Data Drainase. Menurutnya, pemahaman mendalam mengenai kondisi sungai-sungai besar di Kota Medan merupakan syarat mutlak dalam merancang strategi penanganan banjir yang efektif. Pernyataan ini di sampaikan dalam Rapat Kerja Tematik Pembangunan Kota Medan Tahun 2026 yang fokus pada ketangguhan bencana. Rico menekankan bahwa tanpa pemetaan yang akurat, segala upaya yang di lakukan hanya akan menjadi solusi sementara. Pemerintah Kota Medan kini berkomitmen untuk mencari akar persoalan agar masalah genangan air yang menahun dapat segera tuntas.
Dalam arahannya, Walikota Medan Rico Waas menyoroti fakta mengejutkan bahwa sejumlah sungai besar di Medan belum mendapatkan normalisasi selama puluhan tahun. Sungai-sungai vital seperti Sungai Deli, Babura, Belawan, dan Bedera di laporkan terakhir kali di normalisasi secara menyeluruh pada tahun 2000. Kondisi ini sangat kontradiktif dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan perubahan tata ruang yang terus menggerus daerah resapan air. Rico menegaskan bahwa normalisasi dan pelebaran sungai harus menjadi prioritas utama ketimbang sekadar melakukan perawatan drainase kecil. Jika sungai-sungai tersebut tidak segera dikeruk dan diperlebar, volume air yang meluap dari hulu akan selalu gagal tertampung. Hal ini berpotensi membuat banjir terus berulang dan semakin memperparah kondisi infrastruktur kota di masa depan.
Walikota Medan juga berbagi pengalaman pribadinya mengenai keberhasilan penataan Sungai Ciliwung di Jakarta yang terbukti efektif menekan dampak banjir. Ia meyakini bahwa langkah serupa sangat realistis untuk diterapkan di Medan guna mengimbangi tingginya curah hujan di wilayah hulu. Rico mengingatkan bahwa dampak banjir bukan hanya soal genangan, melainkan menyentuh aspek ekonomi bagi 2,5 juta jiwa penduduk kota. Sebagai ibu kota provinsi, kelumpuhan di Kota Medan akibat banjir akan menimbulkan efek domino negatif ke daerah-daerah sekitarnya. Oleh karena itu, ia meminta seluruh perangkat daerah untuk berani menetapkan satu strategi utama yang jelas bagi masyarakat.
Walikota Medan, Rico Waas, Mengungkapkan Fakta
Kondisi sungai di Kota Medan saat ini berada pada level yang sangat mengkhawatirkan akibat pengabaian pemeliharaan selama puluhan tahun. Walikota Medan, Rico Waas, Mengungkapkan Fakta bahwa sungai-sungai utama seperti Sungai Deli dan Babura hampir tidak pernah di normalisasi secara masif sejak tahun 2000. Endapan sedimen yang menumpuk selama seperempat abad telah membuat dasar sungai semakin dangkal dan menyempit secara drastis. Hal ini menyebabkan daya tampung air berkurang secara signifikan sehingga luapan air kiriman dari hulu menjadi ancaman yang tidak terhindarkan. Pengabaian selama 25 tahun ini telah menciptakan bom waktu ekologis yang kini meledak setiap kali musim penghujan tiba di wilayah Sumatera Utara.
Pesatnya pertumbuhan kawasan permukiman di Medan ternyata tidak di barengi dengan pemeliharaan fungsi sungai yang seimbang dan berkelanjutan. Alih fungsi lahan di sepanjang bantaran sungai telah mengubah zona parkir air alami menjadi area bangunan permanen yang menghambat aliran. Rico Waas menegaskan bahwa tanpa normalisasi yang agresif, upaya perbaikan drainase di pusat kota hanya akan menjadi kesia-siaan belaka. Air dari parit-parit warga tidak dapat mengalir masuk ke sungai yang sudah penuh dengan sampah dan sedimen tanah.
Pembersihan sungai ini bukan hanya soal membuang lumpur, melainkan bagian dari upaya menyelamatkan ekonomi kota dari kelumpuhan akibat banjir. Rico Waas berkomitmen untuk berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai guna mempercepat pelebaran sungai-sungai besar yang melintasi Medan. Beliau meyakini bahwa normalisasi adalah solusi paling realistis yang efeknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat secara luas. Tantangan sosial terkait bangunan di sempadan sungai memang besar, namun keselamatan jutaan jiwa penduduk harus tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Dengan sungai yang lebih dalam dan lebar, Medan di harapkan bisa kembali menjadi kota yang aman dan nyaman bagi seluruh warganya.
Pemerintah Kota Medan di bawah kepemimpinan Rico Waas
Pemerintah Kota Medan di bawah kepemimpinan Rico Waas kini mengadopsi pendekatan modern dengan menggabungkan solusi fisik dan pemanfaatan teknologi mutakhir. Pengendalian banjir tidak lagi hanya mengandalkan pengerukan manual, tetapi juga melibatkan riset mendalam melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida). Rico Waas menekankan bahwa setiap kebijakan yang di ambil harus berbasis data ilmiah agar hasilnya maksimal serta tepat sasaran. Beliau mencontohkan kesuksesan pengelolaan air di negara maju seperti Belanda yang memanfaatkan teknologi sensor dan sistem peringatan dini. Dengan integrasi IoT (Internet of Things), level ketinggian air di seluruh sungai besar dapat dipantau secara real-time melalui pusat kendali digital. Pendekatan berbasis riset ini bertujuan untuk menciptakan manajemen air yang efisien, transparan, dan terukur demi melindungi 2,5 juta warga Medan.
Selain inovasi digital, efektivitas penanganan banjir sangat bergantung pada sterilisasi area bantaran sungai dari berbagai hambatan fisik yang ada. Wakil Wali Kota Medan, H. Zakiyuddin Harahap, menyoroti urgensi penertiban bangunan di sepanjang sempadan sungai sebagai langkah yang tidak bisa ditawar. Secara aturan hukum, area di sisi kiri dan kanan badan sungai harus steril agar proses normalisasi dan akses alat berat tidak terhambat. Keberadaan bangunan liar tidak hanya mempersempit ruang sungai, tetapi juga sering kali merusak ekosistem melalui pembuangan limbah domestik sembarangan. Penertiban ini memerlukan koordinasi lintas sektoral yang kuat serta pendekatan humanis agar masyarakat mendapatkan solusi relokasi yang layak. Kesuksesan pengerukan sungai sangat bergantung pada keberanian pemerintah dalam menegakkan aturan tata ruang demi kepentingan publik yang jauh lebih luas.
Perhatian Khusus Pada Praktik Penutupan Drainase
Zakiyuddin juga memberikan Perhatian Khusus Pada Praktik Penutupan Drainase secara permanen oleh oknum pedagang di kawasan padat penduduk. Fenomena pengecoran parit demi kepentingan komersial pribadi, terutama di wilayah pesisir seperti Belawan, dinilai memperburuk risiko genangan air pasang. Pemerintah Kota Medan akan memperketat pengawasan di lapangan untuk memastikan seluruh saluran air mikro tetap berfungsi optimal tanpa sumbatan infrastruktur ilegal. Edukasi kepada warga mengenai pentingnya menjaga fungsi parit terus digalakkan guna membangun kesadaran kolektif dalam mencegah bencana banjir. Sinergi antara pemanfaatan teknologi tingkat tinggi dan ketegasan penegakan hukum menjadi kunci utama dalam mewujudkan Medan yang tangguh bencana. Komitmen ini merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan ibu kota provinsi yang lebih aman, bersih, dan nyaman bagi generasi mendatang.
Upaya pengendalian banjir di Kota Medan di bawah kepemimpinan Wali Kota Rico Waas telah memasuki babak baru yang lebih komprehensif dan berbasis data. Tidak lagi hanya mengandalkan perbaikan drainase mikro yang bersifat parsial, pemerintah kini mengalihkan fokus pada normalisasi sungai besar sebagai solusi jangka panjang yang paling strategis.
Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi landasan gerak Pemerintah Kota Medan:
Pemulihan Infrastruktur yang Terabaikan: Normalisasi sungai seperti Sungai Deli dan Babura menjadi urgensi nasional karena telah terabaikan selama hampir 25 tahun. Pengerukan sedimen dan pelebaran badan sungai adalah harga mati untuk mengembalikan daya tampung air.
Transformasi Teknologi: Melalui pelibatan Brida dan adopsi sistem manajemen air ala negara maju (seperti Belanda), Medan beralih ke kebijakan berbasis riset dan pemantauan IoT (Internet of Things) untuk memprediksi serta mengelola debit air secara real-time. Itulah beberapa dari Walikota Medan.