Site icon MediaViral24

WHO Umumkan Perpanjang Status Darurat Mpox

WHO Umumkan Perpanjang Status Darurat Mpox

WHO Umumkan Perpanjang Status Darurat Mpox

WHO Umumkan Perpanjang Status Darurat Mpox Dengan Alasan Epidemi Masih Belum Terkendali Terutama Akibat Klade Baru Dan Lonjakan Di Afrika. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengumumkan perpanjangan status darurat kesehatan global (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC) untuk wabah mpox. Keputusan ini di ambil setelah WHO meninjau perkembangan terbaru melalui Komite Darurat pada awal Juni 2025. Salah satu akar utama keputusan tersebut adalah masih tingginya jumlah kasus secara global dan adanya lonjakan signifikan di beberapa wilayah tertentu, khususnya di benua Afrika. Di negara seperti Republik Demokratik Kongo, Uganda, Burundi, dan Sierra Leone, kasus baru mpox terus meningkat secara konsisten setiap minggunya. Bahkan, WHO mencatat bahwa ratusan hingga ribuan kasus baru di laporkan secara mingguan. Dari wilayah-wilayah tersebut, dengan varian klade Ib sebagai penyebab utama penyebaran.

Transmisi aktif juga tidak terbatas hanya pada negara endemis. Beberapa negara di luar Afrika melaporkan kasus impor, bahkan ada bukti terbatas mengenai transmisi komunitas. Kondisi ini memicu kekhawatiran WHO bahwa wabah mpox belum benar-benar terkendali secara global. Walaupun negara-negara dengan kapasitas kesehatan tinggi menunjukkan penurunan kasus, masih ada tantangan besar di negara-negara dengan sistem kesehatan terbatas, termasuk kurangnya vaksin, obat, serta kapasitas deteksi dini.

Dengan mempertimbangkan data ilmiah, penyebaran virus lintas batas, serta potensi varian baru yang lebih cepat menular, WHO Umumkan Perpanjang menilai bahwa pencabutan status darurat saat ini terlalu dini. Oleh karena itu, status PHEIC di perpanjang, dan rekomendasi sementara di perbarui untuk memastikan setiap negara anggota memiliki strategi pencegahan dan penanganan yang responsif dan adaptif terhadap di namika terbaru wabah mpox.

WHO Umumkan Perpanjang Status Darurat Hingga 20 Agustus 2025 & Rekomendasi Diperbarui

WHO Umumkan Perpanjang Status Darurat Hingga 20 Agustus 2025 & Rekomendasi Diperbarui. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memperpanjang status darurat kesehatan global untuk wabah mpox hingga 20 Agustus 2025, setelah melalui evaluasi yang mendalam oleh Komite Darurat International Health Regulations (IHR). Perpanjangan ini bukan hanya bentuk kewaspadaan, tetapi juga sinyal bahwa penanganan wabah masih memerlukan koordinasi lintas negara. Dalam pernyataan resminya, WHO menekankan bahwa meskipun beberapa wilayah menunjukkan penurunan kasus, peningkatan signifikan di negara-negara Afrika seperti Republik Demokratik Kongo dan Uganda tetap menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, WHO mengeluarkan rekomendasi yang di perbarui guna memperkuat respons global terhadap wabah ini.

Rekomendasi tersebut mencakup langkah-langkah strategis yang di tujukan kepada negara-negara yang mengalami transmisi komunitas aktif maupun yang hanya mencatat kasus impor. WHO menegaskan pentingnya memperluas cakupan vaksinasi, terutama bagi kelompok rentan seperti pengidap HIV, ibu hamil, dan anak-anak. Selain itu, penguatan sistem surveilans, peningkatan kapasitas laboratorium, serta penyediaan pengobatan yang cepat dan tepat menjadi prioritas utama. WHO juga mendorong negara anggota untuk mengintensifkan kampanye edukasi publik dan mengatasi stigma terhadap penderita mpox.

Dalam pembaruan rekomendasi ini, WHO turut mengingatkan bahwa pengabaian terhadap wabah di satu wilayah dapat berdampak secara global. Oleh sebab itu, solidaritas internasional dan komitmen pendanaan untuk program darurat di kawasan endemis sangat di perlukan. Langkah-langkah ini di harapkan mampu menurunkan laju penularan dan membawa wabah mpox menuju akhir yang terkendali dalam waktu mendatang.

WHO Meluncurkan Kerangka Strategis Baru Untuk Mpox Yang Mencakup Periode 2024–2027

WHO Meluncurkan Kerangka Strategis Baru Untuk Mpox Yang Mencakup Periode 2024–2027, sebagai tindak lanjut dari rencana kesiapsiagaan awal hingga Februari 2025. Strategi ini bertujuan menahan transmisi manusia-ke-manusia dan memperkecil potensi gambaran zoonosis yang tak terduga. Pendekatan yang di adopsi bersifat menyeluruh, mencakup lima komponen utama: koordinasi darurat, pengawasan terpadu, perlindungan komunitas, akses ke countermeasure medis, dan pemantapan layanan klinis .

Arah utama strategi mencakup integrasi program mpox ke dalam layanan kesehatan yang sudah ada, seperti layanan kesehatan seksual, HIV/STI, dan sistem perawatan primer – bukan program berdiri sendiri. Hal ini di harapkan meningkatkan daya jangkau dan efisiensi, serta memperkuat ketahanan sistem kesehatan. Prinsip panduan WHO menaat pada penghormatan terhadap hak asasi manusia, keterlibatan masyarakat, kesetaraan dalam akses, dan adaptasi sesuai konteks lokal.

Program aksi ini juga mendorong negara-negara anggota untuk melakukan tinjauan evaluasi aksi sebelumnya (after-action review), menetapkan respons terlokalisasi berdasarkan tingkat transmisi, serta meningkatkan kapasitas laboratorium untuk diagnostik dan sekuensing genomik . Selain itu, vaksinasi secara tepat sasaran bagi populasi berisiko tinggi—termasuk pengidap HIV, ibu hamil, dan masyarakat usia dini—menjadi prioritas, selaras dengan fase epidemiologis yang sedang di hadapi .

Lebih lanjut, WHO menetapkan sejumlah indikator pemantauan dan evaluasi (M&E) untuk mengukur keberhasilan program dari tahun ke tahun. Rencana ini menggambarkan pendekatan panjang dengan timeline jelas, dukungan pendanaan, dan komitmen global yang di bangun melalui kolaborasi antara negara, lembaga kesehatan, dan komunitas terdampak.

Dampak Dan Momentum Penting Bagi Peningkatan Kolaborasi Global

Perpanjangan status darurat kesehatan global oleh WHO terhadap wabah mpox menciptakan Dampak Dan Momentum Penting Bagi Peningkatan Kolaborasi Global. Sejak awal penetapan status PHEIC (Public Health Emergency of International Concern), respons internasional terhadap mpox telah memunculkan beragam inisiatif lintas batas negara. WHO menegaskan bahwa penanganan mpox tidak dapat di lakukan secara terpisah oleh satu negara, melainkan membutuhkan kerja sama erat antar pemerintah, organisasi internasional, sektor kesehatan, serta komunitas terdampak. Dalam laporan terbarunya, WHO menyebut bahwa keberhasilan sementara dalam menekan kasus di wilayah non-endemis seperti Eropa dan Amerika Utara sebagian besar di capai berkat mekanisme kolaboratif, termasuk distribusi vaksin, pertukaran data epidemiologis, dan kampanye edukasi bersama.

Momentum ini semakin di perkuat oleh peluncuran strategi aksi global mpox 2024–2027, yang menjadikan kerja sama internasional sebagai salah satu pilar utamanya. Negara-negara donor berperan penting dalam memastikan ketersediaan vaksin dan obat-obatan di wilayah yang paling terdampak, seperti Afrika Tengah dan Barat. WHO juga bekerja sama dengan CDC, GAVI, dan lembaga kesehatan masyarakat lainnya untuk memperluas akses deteksi laboratorium dan pelatihan tenaga medis di negara-negara berkembang. Kolaborasi ini turut mendorong partisipasi aktif komunitas lokal untuk menghilangkan stigma terhadap pasien mpox serta memperkuat komunikasi risiko.

Dengan perpanjangan status darurat hingga 20 Agustus 2025, WHO berharap kerja sama ini tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan sistem kesehatan global dalam jangka panjang. Pendekatan terkoordinasi yang berbasis keadilan, solidaritas, dan tanggung jawab bersama menjadi kunci dalam mengatasi mpox serta mencegah kemunculan wabah serupa di masa depan.

WHO memperpanjang status darurat mpox hingga 20 Agustus 2025, dengan alasan epidemi masih belum terkendali terutama akibat klade baru dan lonjakan di Afrika. Rekomendasi teknis di perbarui, dana dan vaksinasi lebih difokuskan pada kelompok rentan. Dan menekankan pentingnya solidaritas global untuk benar-benar mengakhiri pandemi Mpox ini, WHO Umumkan Perpanjang.

Exit mobile version